Omzet naik tapi keuntungan tidak terasa? Kondisi ini cukup membingungkan bagi pemilik UMKM. Penjualan bertambah dan pelanggan semakin banyak. Namun, uang yang tersisa di akhir bulan tetap terasa sedikit.
Dalam kondisi seperti ini, masalahnya belum tentu karena penjualan kurang.
Bisa jadi omzet memang bertambah. Akan tetapi, biaya juga ikut naik. Margin mungkin terlalu kecil. Uang juga bisa tertahan di stok atau piutang.
Karena itu, sebelum mengejar omzet yang lebih tinggi, periksa terlebih dahulu enam angka dasar berikut.
Kenapa Omzet Naik Belum Tentu Membuat Keuntungan Bertambah?
Omzet menunjukkan total nilai penjualan bisnis.
Namun, omzet bukan berarti keuntungan.
Sebagai contoh, sebuah bisnis menghasilkan penjualan:
Rp100 juta per bulan
Angka tersebut memang terlihat besar.
Akan tetapi, bisnis tetap harus membayar berbagai biaya. Misalnya, biaya barang, gaji, sewa, iklan, operasional, retur, dan pengeluaran lainnya.
Jika total biaya mencapai:
Rp95 juta
Maka uang yang tersisa jauh lebih kecil.
Dengan kata lain:
Omzet menjawab “berapa banyak yang terjual”.
Sementara itu, keuntungan menjawab:
“Berapa banyak yang tersisa setelah biaya dibayar?”
Jadi, kedua angka tersebut tidak boleh dianggap sama.
Jika pemilik bisnis hanya melihat omzet, kondisi usaha bisa terlihat lebih baik dari keadaan sebenarnya.
6 Angka Bisnis yang Perlu Dicek UMKM
Anda tidak perlu memahami akuntansi secara rumit untuk mulai memeriksa kondisi bisnis.
Sebagai langkah awal, fokus pada enam angka berikut:
- Omzet
- Keuntungan
- Margin
- Biaya
- Arus kas
- Biaya mendapatkan pelanggan
Setelah itu, bandingkan angka tersebut dari bulan ke bulan.
1. Omzet: Penjualan Benar-Benar Bertumbuh atau Hanya Terlihat Besar?
Angka pertama yang perlu dilihat adalah omzet.
Omzet merupakan total penjualan sebelum dikurangi biaya.
Sebagai contoh:
- Januari: Rp50 juta
- Februari: Rp55 juta
- Maret: Rp65 juta
Dari angka tersebut, bisnis terlihat tumbuh.
Namun, jangan berhenti pada angka omzet saja.
Selanjutnya, cari tahu:
“Mengapa omzet naik?”
Ada beberapa kemungkinan.
Omzet bisa naik karena jumlah pelanggan bertambah. Harga juga mungkin meningkat. Selain itu, promosi yang lebih besar dapat mendorong penjualan.
Di sisi lain, kenaikan tersebut bisa terjadi karena:
- produk baru,
- diskon yang lebih besar,
- transaksi dalam jumlah besar,
- atau pembelian satu kali.
Karena itu, penting untuk melihat penyebab perubahan omzet.
Yang Perlu Dicek
Bandingkan beberapa data berikut:
- omzet bulan ini,
- omzet bulan sebelumnya,
- omzet pada periode yang sama,
- jumlah transaksi,
- dan sumber penjualan.
Dengan cara ini, Anda tidak hanya mengetahui bahwa omzet naik. Anda juga dapat mengetahui apa yang membuat omzet tersebut berubah.
2. Keuntungan: Berapa yang Benar-Benar Tersisa?
Setelah melihat omzet, periksa keuntungan.
Sebagai contoh:
Omzet: Rp100 juta
Total biaya: Rp85 juta
Sisa: Rp15 juta
Artinya, setelah biaya yang dihitung, bisnis menyisakan Rp15 juta.
Sekarang bandingkan dengan bulan sebelumnya.
Omzet: Rp80 juta
Total biaya: Rp60 juta
Sisa: Rp20 juta
Pada bulan berikutnya, omzet naik dari Rp80 juta menjadi Rp100 juta.
Namun, keuntungan justru turun dari Rp20 juta menjadi Rp15 juta.
Inilah kondisi yang sering membuat pemilik bisnis bertanya:
“Penjualan naik, tetapi kok uang tidak terasa?”
Dalam kondisi tersebut, masalahnya bukan selalu pada omzet.
Bisa jadi biaya tumbuh lebih cepat daripada keuntungan.
Pertanyaan Penting
Coba periksa beberapa hal berikut:
- Apakah keuntungan naik bersama omzet?
- Apakah biaya meningkat lebih cepat?
- Apakah ada pengeluaran baru?
- Apakah diskon terlalu besar?
- Apakah biaya promosi meningkat?
- Apakah produk dengan omzet tinggi justru memiliki margin kecil?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu menemukan penyebabnya.
3. Margin: Apakah Setiap Penjualan Memberikan Keuntungan yang Cukup?
Margin membantu Anda melihat sisa dari penjualan setelah biaya tertentu dihitung.
Sebagai contoh, sebuah produk dijual dengan harga:
Rp100.000
Biaya langsung produk:
Rp70.000
Maka selisihnya:
Rp30.000
Secara sederhana, margin kotor berada di sekitar:
30%
Masalah dapat muncul ketika bisnis mengejar omzet melalui produk dengan margin kecil.
Perhatikan contoh berikut.
Produk A
- Omzet Rp50 juta
- Margin 10%
Produk B
- Omzet Rp30 juta
- Margin 30%
Produk A memang menghasilkan omzet lebih besar.
Namun, Produk B memiliki margin yang lebih tinggi.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Produk mana yang paling laku?”
Pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah:
“Produk mana yang memberikan sisa keuntungan lebih baik?”
Dengan begitu, Anda dapat melihat kualitas penjualan, bukan hanya jumlah penjualan.
4. Biaya: Ke Mana Uang Bisnis Pergi?
Ketika omzet naik tetapi keuntungan tidak terasa, biaya menjadi salah satu bagian pertama yang perlu diperiksa.
Biaya bisnis dapat berasal dari:
- bahan atau barang,
- gaji,
- sewa,
- listrik,
- logistik,
- biaya marketplace,
- iklan,
- software,
- operasional,
- komisi,
- retur,
- dan biaya lainnya.
Namun, masalah tidak selalu berasal dari satu biaya besar.
Pengeluaran kecil yang terus muncul juga dapat mengurangi keuntungan.
Buat Daftar Biaya
Agar lebih mudah, kelompokkan biaya menjadi empat bagian.
Biaya utama
Biaya yang berkaitan langsung dengan produk atau jasa.
Biaya operasional
Biaya untuk menjalankan bisnis setiap hari.
Biaya pemasaran
Biaya untuk iklan, konten, promosi, dan kegiatan marketing.
Biaya lain-lain
Pengeluaran yang tidak masuk ke tiga kelompok sebelumnya.
Setelah itu, bandingkan perubahan biaya dengan perubahan omzet.
Misalnya, omzet naik 20%, tetapi biaya naik 35%.
Dalam kondisi seperti ini, Anda perlu mencari tahu penyebabnya.
5. Arus Kas: Kenapa Penjualan Ada tapi Uang Tunai Terasa Kurang?
Arus kas sering menjadi bagian yang membingungkan bagi pemilik UMKM.
Bisnis bisa mencatat penjualan yang tinggi. Namun, uang tunai tetap terasa kurang.
Sebagai contoh:
- barang sudah terjual,
- pelanggan belum membayar penuh,
- stok sudah dibeli,
- stok belum terjual,
- piutang meningkat,
- dan biaya tetap harus dibayar.
Akibatnya, angka penjualan terlihat baik. Namun, uang yang tersedia tetap terbatas.
Cek Beberapa Hal
Periksa kondisi berikut:
- Berapa uang kas yang tersedia?
- Berapa piutang yang belum masuk?
- Berapa nilai stok?
- Berapa kewajiban yang harus dibayar?
- Kapan uang pelanggan masuk?
- Kapan pemasok harus dibayar?
Karena itu, omzet dan arus kas tidak boleh dianggap sebagai hal yang sama.
Penjualan dapat naik, tetapi uang tunai tetap terbatas.
6. Biaya Mendapatkan Pelanggan: Apakah Pertumbuhan Masih Menguntungkan?
UMKM yang aktif melakukan promosi juga perlu mengetahui biaya mendapatkan pelanggan.
Sebagai contoh:
Biaya iklan dan promosi: Rp5 juta
Pelanggan baru: 50 orang
Dengan hitungan sederhana, biaya untuk mendapatkan satu pelanggan sekitar:
Rp100.000
Namun, angka tersebut belum cukup.
Pertanyaan berikutnya adalah:
“Berapa keuntungan yang dihasilkan dari pelanggan tersebut?”
Jika biaya mendapatkan pelanggan terlalu tinggi, pertumbuhan bisnis dapat menjadi kurang menguntungkan.
Karena itu, jangan hanya melihat jumlah lead.
Periksa juga:
- jumlah pelanggan baru,
- biaya promosi,
- jumlah transaksi,
- nilai transaksi,
- pembelian ulang,
- dan keuntungan yang dihasilkan.
Dengan cara tersebut, Anda dapat melihat apakah biaya promosi benar-benar membantu bisnis.
Cara Membaca 6 Angka Ini Secara Sederhana
Enam angka tersebut sebaiknya dilihat secara berurutan:
Omzet → Keuntungan → Margin → Biaya → Arus Kas → Biaya Mendapatkan Pelanggan
Tujuannya bukan mencari angka yang paling tinggi.
Sebaliknya, lihat hubungan antara satu angka dengan angka lainnya.
Sebagai contoh:
Omzet naik
↓
Biaya naik lebih cepat
↓
Margin turun
↓
Keuntungan tidak bertambah
↓
Kas tetap terasa sempit
Dari pola tersebut, terlihat bahwa masalah mungkin bukan kurangnya pelanggan.
Bisa jadi bisnis perlu memperbaiki biaya atau margin terlebih dahulu.
Contoh Sederhana: Omzet Naik tetapi Keuntungan Turun
Misalnya sebuah UMKM mempunyai kondisi berikut.
Bulan A
Omzet:
Rp80 juta
Keuntungan:
Rp16 juta
Bulan B
Omzet:
Rp100 juta
Keuntungan:
Rp13 juta
Sekilas, bulan B terlihat lebih baik karena penjualan naik Rp20 juta.
Namun, keuntungan justru turun Rp3 juta.
Lalu, apa yang perlu diperiksa?
Pertama, periksa apakah diskon bertambah.
Selanjutnya, lihat apakah biaya iklan naik.
Kemudian, periksa harga bahan.
Selain itu, lihat produk apa saja yang paling banyak terjual.
Terakhir, cari tahu apakah ada biaya baru.
Dari pemeriksaan tersebut, Anda dapat menemukan penyebab perubahan keuntungan.
Jadi, angka omzet saja belum cukup untuk membaca kondisi bisnis.
Checklist Keuangan Sederhana untuk UMKM
Gunakan checklist berikut setiap bulan.
| Angka | Pertanyaan | Status |
|---|---|---|
| Omzet | Apakah penjualan benar-benar tumbuh? | ☐ |
| Keuntungan | Apakah sisa keuntungan meningkat? | ☐ |
| Margin | Apakah margin masih cukup sehat? | ☐ |
| Biaya | Apakah biaya tumbuh lebih cepat dari omzet? | ☐ |
| Arus Kas | Apakah uang tunai cukup untuk kebutuhan bisnis? | ☐ |
| Biaya Pelanggan | Apakah biaya mendapatkan pelanggan masih masuk akal? | ☐ |
Tidak perlu membuat sistem yang rumit.
Yang lebih penting adalah melakukan pemeriksaan secara rutin.
Bandingkan hasilnya dari bulan ke bulan agar perubahan lebih mudah terlihat.
Kesalahan yang Sering Dilakukan UMKM Saat Melihat Keuangan
Hanya Melihat Omzet
Omzet memang penting.
Namun, angka tersebut belum menunjukkan keuntungan yang tersisa.
Karena itu, selalu bandingkan omzet dengan biaya dan keuntungan.
Menganggap Penjualan Tinggi Berarti Bisnis Sehat
Penjualan yang tinggi belum tentu berarti bisnis sehat.
Margin dapat tetap kecil. Biaya juga dapat terlalu besar. Selain itu, arus kas bisa tetap bermasalah.
Tidak Memisahkan Uang Bisnis dan Pribadi
Uang bisnis sebaiknya dipisahkan dari uang pribadi.
Dengan begitu, pemilik dapat melihat kondisi usaha dengan lebih jelas.
Tidak Mencatat Pengeluaran Kecil
Pengeluaran kecil terlihat sepele.
Namun, jika terjadi terus-menerus, jumlahnya dapat menjadi besar.
Karena itu, catat pengeluaran sekecil apa pun yang berkaitan dengan bisnis.
Menambah Promosi Saat Margin Bermasalah
Promosi memang dapat membantu meningkatkan penjualan.
Akan tetapi, menambah pelanggan belum tentu menyelesaikan masalah jika margin sudah terlalu kecil.
Sebelum menambah promosi, periksa margin dan biaya terlebih dahulu.
Tidak Membandingkan Periode
Satu bulan belum cukup untuk melihat pola bisnis.
Oleh sebab itu, bandingkan:
bulan ini dengan bulan lalu
atau:
periode ini dengan periode yang sama sebelumnya.
Dengan perbandingan tersebut, perubahan bisnis akan lebih mudah terlihat.
Kapan UMKM Perlu Melakukan Pemeriksaan Lebih Mendalam?
Pemeriksaan sederhana dapat dilakukan sendiri.
Namun, bantuan tambahan dapat dipertimbangkan ketika:
- omzet naik tetapi keuntungan terus turun,
- margin sulit dipahami,
- kas sering terasa kurang,
- biaya meningkat tanpa alasan yang jelas,
- promosi bertambah tetapi hasilnya tidak sebanding,
- banyak angka tersedia tetapi sulit menentukan langkah,
- atau masalah keuangan mulai memengaruhi keputusan marketing dan operasional.
Dalam kondisi tersebut, konsultasi tidak berarti menggantikan peran akuntan.
Konsultasi dapat membantu pemilik memahami angka mana yang perlu diperhatikan dan masalah mana yang perlu dibahas lebih lanjut.
Jangan Mengejar Omzet Tanpa Melihat Kualitas Pertumbuhannya
Pertumbuhan bisnis memang penting.
Namun, pertumbuhan yang sehat bukan sekadar:
Penjualan naik.
Pertumbuhan yang lebih sehat terlihat ketika:
Penjualan naik → margin terjaga → biaya terkendali → kas sehat → keuntungan ikut tumbuh.
Jika salah satu bagian tertinggal, pertumbuhan dapat terasa berat.
Karena itu, sebelum mengejar penjualan berikutnya, berhenti sejenak dan tanyakan:
“Apakah pertumbuhan bisnis saya benar-benar menghasilkan lebih banyak keuntungan?”
Pertanyaan tersebut sering lebih penting daripada:
“Bagaimana cara menaikkan omzet lagi?”
Kesimpulan
Omzet naik tetapi keuntungan tidak terasa bukan berarti bisnis pasti gagal.
Namun, kondisi tersebut menjadi tanda bahwa angka bisnis perlu diperiksa lebih dalam.
Mulailah dari enam angka:
- Omzet
- Keuntungan
- Margin
- Biaya
- Arus kas
- Biaya mendapatkan pelanggan
Selanjutnya, lihat hubungan di antara angka tersebut.
Jika omzet naik tetapi biaya naik lebih cepat, cari penyebabnya.
Jika penjualan naik tetapi margin turun, periksa produk, harga, dan biaya.
Sementara itu, jika penjualan terlihat bagus tetapi kas tetap sempit, periksa piutang, stok, dan kewajiban.
Dengan demikian, pemilik UMKM tidak hanya mengetahui bahwa bisnis sedang tumbuh.
Mereka juga dapat memahami apakah pertumbuhan tersebut sehat.
Jika angka-angka tersebut mulai saling berkaitan dan sulit dibaca sendiri, konsultasi bisnis dapat membantu memetakan masalah dan menentukan langkah yang perlu diperiksa terlebih dahulu.
FAQ
Apakah omzet sama dengan keuntungan?
Tidak. Omzet adalah nilai penjualan. Sementara itu, keuntungan merupakan sisa setelah biaya diperhitungkan.
Mengapa omzet naik tetapi keuntungan turun?
Ada beberapa kemungkinan. Misalnya, biaya meningkat, margin mengecil, diskon terlalu besar, biaya promosi bertambah, atau produk dengan margin rendah lebih banyak terjual.
Apa yang harus dicek ketika keuntungan UMKM menurun?
Mulailah dengan melihat margin, biaya, arus kas, produk yang terjual, biaya promosi, dan biaya mendapatkan pelanggan.
Apakah bisnis dengan omzet besar pasti sehat?
Tidak. Omzet besar tetap dapat disertai margin kecil, biaya tinggi, atau masalah arus kas.
Mengapa arus kas penting bagi UMKM?
Arus kas menunjukkan uang yang tersedia untuk kebutuhan bisnis. Karena itu, bisnis tetap perlu mengelola kas meskipun penjualan terlihat tinggi.
Apakah biaya promosi harus dikurangi ketika keuntungan turun?
Belum tentu. Periksa terlebih dahulu hubungan antara biaya promosi, pelanggan baru, penjualan, dan keuntungan.
Kapan UMKM perlu konsultasi terkait keuangan bisnis?
Konsultasi dapat dipertimbangkan ketika pemilik sulit memahami angka, tidak menemukan sumber masalah, atau keputusan keuangan mulai berkaitan dengan marketing dan operasional.
Jangan Hanya Mengejar Omzet
Omzet yang meningkat memang terlihat positif.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Berapa banyak keuntungan yang benar-benar tersisa?”
Sebelum membuat keputusan besar, periksa enam angka bisnis di atas. Setelah itu, lihat hubungan antara omzet, biaya, margin, keuntungan, arus kas, dan biaya mendapatkan pelanggan.
Jika Anda menemukan angka yang saling bertentangan atau belum tahu bagian mana yang perlu diperbaiki, diskusi bisnis dapat membantu memetakan kondisi tersebut dengan lebih terarah.
Mulai dari angka yang ada. Pahami masalahnya. Kemudian tentukan langkah berikutnya.
